Inilah cinta kepada sahabat yang tak akan pernah berubah

Hidup ini tak hanya perihal perasaan cinta kepada lawan jenis, namun banyak hal yang perlu dirasakan seperti bersahabat dengan semua orang, menebarkan cinta kepada alam seolah-olah ungkapan terimakasih karena alam telah memberikan udara untuk bernafas, tempat berteduh, tempat mendapatkan banyak ilmu.

Ketika pilihanku jatuh padamu

Manusia adalah Ciptaan Tuhan yang tak bisa selamanya hidup di dunia. Segala harta, kekayaan, dan kekuasaan juga suatu hari akan berakhir masanya. Namun, Perasaan, hati, dan rasa kesetiaan seorang sahabat takkan pernah sirna untuk selamanya. karena Walaupun disaat sahabat kita sudah tidak ada di dunia. namun seorang sahabat sejati itu akan selalu ada di hati kita untuk selama-lamanya.

Persahabatan yang abadi

Sebuah hal yang telah terjadi akan mudah terlupakan, sehingga tuliskan cerita dari persahabatanmu supaya suata saat nanti akan dapat dikenang dan diceritakan ulang kepada generasi penerus diri,sehingga cerita itu masih tetap ada sampai kapanpun meskipun diri ini sudah tiada lagi di dunia ini.

SAHABAT

Sahabat yang baik adalah orang yang sangat kita percayai dan membuat kita tenang bersamanya. Dia menjadi tempat berbagi kelelahan, berbagi kesedihan dan tidak pernah menjual rahasia diri kita.

Proses yang lama

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Senin, 28 September 2015

aku kehilangan radarku

 Aku Kehilangan Radarku


Malam lalu aku tak dapat memejamkan kedua mata sipitku ini. Jarum jam yang menggantung di tembok unguku menunjukan pukul 2 dini hari.
“Sial, mau jadi apa aku esok bila masih belum dapat memejamkan mataku” gumamku dalam hati.
Aku memutar badanku ke sebelah kanan ranjang mungilku. Mataku berlari-lari mencari sesuatu yang aku sendiri tak tahu apa itu jelasnya. Sejenak, mataku berhenti menatap nanar sebuah boneka. Boneka monyet berwarna cokelat itu tertata rapi di atas meja belajarku. Khayalku terbang melambung setinggi angkasa, mengingat setiap kenangan yang terukir bersama boneka itu. Aku masih ingat betul kejadian itu, kejadian dimana aku harus kehilangan Uranusku.
“Pergi!!! Jangan lagi hubungi aku!” bentakku pada lelaki sipit itu. Berkali-kali kucoba melepaskan genggaman tangannya yang begitu pekik menahan tanganku. Aku merasakan tangan itu gemetar dan berkeringat. Sekali lagi aku menarik tanganku begitu keras. Ku lempar boneka monyet pemberiannya yang tergeletak di atas ranjang kamarku. Akalku tak lagi berfungsi. Emosiku kala itu menghancurkan logika dan ribuan sayangku padanya. Bagaimana tidak? Perempuan mana yang tak sakit hatinya mendapati sang kekasih masih menjalin komunikasi yang begitu akrab dengan mantan kekasihnya dulu?
Nampaknya ia sudah putus asa memberikan ribuan penjelasan padaku. Ia menundukkan kepalanya, menatapku sejenak dan mencium keningku. Sejenak air mataku menetes, butiran-butiran mutiara itu meleleh bak terkena semburan lava panas merapi. Ia membalikkan tubuhnya, berjalan meninggalkan kamarku yang dingin oleh air conditioner itu. Perlahan namun pasti punggung itu berjalan menjauh dariku. Makin lama makin kuat hatiku merasakan sakit. Mungkin aku memang harus mendengarkan penjelasannya tadi. Aku menyesal. Ku banting pintu kamarku sekeras mungkin, menguncinya dan membiarkan ribuan mili air mataku jatuh membasahi pipi.
Singkat cerita, sejak kejadian malam itu, aku tak lagi menghubungi Rafi, walau ku tau ponselku tak berhenti berdering semalam suntuk. Hingga sebuah kecelakan maut itu terjadi padaku. Mobil sedanku menabrak sebuah truk esok paginya. Kejadian itu merenggut semua yang ku miliki. Bahkan mataku. Aku tak lagi dapat melihat. Tak ada lagi sinar rembulan yang mampu ku tatap di setiap malam. Semuanya terasa begitu gelap. Dalam gelap, Rafi tetap bersamaku. Ia menemaniku menghabiskan ratusan malam yang gelap. Bahkan di saat semua orang menjauhiku dan menghujatku, hanya Rafi, Bunda, Ayah dan beberapa sahabat yang masih mau menopangku untuk tetap bangkit, berdiri dan melanjutkan hidup. Enam bulan sudah aku buta, menunggu orang-orang dermawan yang mau menyumbangkan matanya untukku.
Hingga akhirnya aku mendapatkan pendonor yang mau membantuku. Pagi itu aku siap menjalani operasi. Semua hadir untuk memberikan semangat padaku. Ayah, Bunda, Raisa, Chandra serta Nenek. Hanya Rafi yang tak nampak hari itu. Biarlah, mungkin ia sibuk. Aku tak lagi sabar untuk kembali melihat keindahan alam semesta ini. Melihat senyum manis yang terukir di bibir mungil Bunda dan Ayah, menatap mata sipit Rafi serta menyaksikan kekonyolan Chandra serta Raisa. Tunggu aku kawan. Operasiku berjalan lancar. Bahkan setelah 2 hari setelah operasi aku sudah dapat melihat dengan baik. Namun aku belum juga melihat Rafi. Ia belum menampakkan batang hidungnya di depan mukaku. Kemana dia? Hei, aku merindukan senyummu. Berkali-kali ku tanyakan keberadaannya kepada Bunda, namun Bunda hanya diam dalam senyumnya, begitu pula dengan Ayah dan sahabat-sahabatku. Baiklah, aku mulai kecewa padanya.
Seminggu setelah operasi, Rafi masih menghilang. Ke mana Uranusku? Ke mana perginya manusia itu? Sejenak aku terdiam mengingat pertengkaran terakhirku bersamanya. Apa mungkin ia benar-benar kecewa dengan perbuatanku malam itu? Baiklah, aku salah. Seharusnya ku biarkan saja Rafi memberikan penjelasannya padaku. Rasa menyesal itu melahirkan ide manis untuk memberikan sedikit kejutan padanya. Ku injak pedal gas mobilku dan meluncur menuju sebuah toko kue di dekat rumahku. Aku memang tak pandai memilih kue, tapi yang ku tahu, Rafi menyukai rasa lemon, sehingga ku beli saja sebuah tart lemon bertuliskan ucapan maafku di atasnya. Seusai itu, aku kembali menginjak pedal gas mobilku. Ku luncurkan sedan itu kesebuah rumah di kawasan elit, Kelapa Gading. “Aku harus meminta maaf pada Rafi” ucapku dalam hati.
Dari kejauhan ku lihat beberapa karangan bunga tertata rapi di depan rumah berpagar emas itu. Jantungku berdegup kencang, aliran darahku terasa begitu cepat, pikiranku tak karuan saat itu. Sial, aku panik, begitu panik hingga ku biarkan saja mobilku berhenti di depan pagar emas itu. Ku buka pintu mobilku dengan menenteng sekotak tart lemon yang hendak ku berikan pada Rafi.
Tunggu! Ini aneh, ada yang salah dengan ini semua. Karangan bunga itu mulai mengering dengan ucapan berduka atas kepergian seseorang. Siapa yang meninggal? Mamanya? Papanya? Atau adiknya? Ku cepatkan langkah kakiku. Itu pak Ilham! Aku menghampiri lelaki paruh baya yang mengenakan pakaian satpam lengkap itu.
“Pak, ada Rafi?” tanyaku mencoba buta akan keadaan.
“Mas Rafi? Aduh mbak, memang mbak belum tahu?”
“Tahu apa?” tanyaku semakin tak enak.
“Ini mbak Meli toh?” tanya pak Ilham dengan logat jawanya yang khas.
“Iya pak. Ada apa memangnya?” tanyaku kesal.
“Mbak.. maaf ya kalau pak Ilham lancang. Mas Rafi sudah nggak ada sejak bulan lalu. Sudah lama” ucapan pak Ilham itu bagai petir di siang bolong.
Aku menjatuhkan tart lemon yang baru saja ku beli. Ku lajukan mobil sedan merahku kembali ke rumah. Ku buka pintu kamar Bunda dan membiarkan emosiku meledak-ledak dengan tetesan air mata yang tak tertahankan.
“Bunda! Kenapa Bunda nggak bilang sama aku?” tanyaku.
“Lalu mata ini? ini mata siapa Bunda?” tanyaku berteriak.
“Tenang sayang tenang.. Bunda nggak bermaksud bohong, Rafi memang sudah tidak ada. Kamu tahu? Sudah sebulan ini ia mengidap kanker darah, pengobatan itu membuatnya menyerah dan menutup matanya. Mata itu milik Rafi. Ia yang memaksa orangtuanya mendonorkan mata untukmu” Aku terhenyak.

Lagi, air mataku menetes. Ku ambil boneka cokelat itu, ku letakkan dalam dekapanku. Ku langkahkan kakiku menuju taman belakang rumah. Membiarkan tubuhku melemas di atas gazebo kayu itu. Menatap nanar sang rembulan dan bintang yang begitu indah. Kali ini aku sudah terisak. Tuhan Aku kehilangan separuh jiwaku, aku kehilangan sebagian hidupku. Sungguh, rasanya ingin ku ulang waktu, datang dan kembali ke malam itu. Ingin rasanya ku bungkam mulut manisnya dan membiarkan ragaku jatuh dalam hangat dekapnya. Andai ku tahu akan seperti ini akhirnya, aku tak mau berkelahi dengannya. Aku tak mau mengusirnya ke luar dari rumahku.
Tuhan teganya Kau padaku. Teganya kau ambil separuh napasku. Jika boleh memilih, lebih baik kau butakan mataku seumur hidup, daripada kau ambil dirinya. Sungguh, aku masih mau melihat mata itu, mata sipit yang selalu menusuk tajam ke dalam mataku. Aku masih mau memandang senyum manisnya. Aku masih mau mendekap tubuh mungilnya. Aku masih mau merasakan kecupan mesranya, bahkan aku masih mau merasakan genggaman tangannya.
Malam-malam terasa begitu dingin tanpa kehadiranmu. Hujan-hujan terasa begitu menakutkan tanpa kehadiranmu. Aku menyesal. Aku menyesal telah menutup mata ini cukup lama, membaringkan tubuhku di ranjang rumah sakit tanpa tahu kau begitu menderita tanpaku. Bahkan dalam keadaan sakit pun aku masih saja menyusahkanmu. Uranus, kini panggilanmu itu benar-benar memiliki makna untukku. Aku dingin sedingin Uranus.
Aku hampa sehampa Uranus, bahkan aku tak terkendali layaknya Uranus. Ku lihat bintang tak seindah biasanya, ku lihat rembulan tak seanggun biasanya, bahkan langit tak sekokoh malam-malam sebelumnya. Aku melihat angkasa malam, lalu mengangkat ibu jari serta telunjukku di atas kepala dengan bodohnya, memancarkan radar Uranus yang biasa kita lakukan. Air mataku menetes. Kini ku sadari, tak akan ada lagi radar Uranus yang kau berikan untukku di setiap malam ketika kita melihat rembulan dan bintang-bintang di langit. Tuhan, Aku kehilangan radarku.

Jumat, 25 September 2015

Friend Forever




  SAHABAT SELAMANYA


Disana terlihat dua orang anak perempuan yang kelihatan bahagia. Mereka tertawa dan bercanda berdua. Ternyata mereka berdua adalah sahabat. Mereka berdua mernama Adell dan Airin. Mereka takkan terpisahkan. Adell dan airin sudah saling kenal sejak kecil. Mereka berdua tdk pernah terpisah. Mereka sekelas bahkan satu bangku.

Pagi harinya di sekolah…
“Rin……” sapa Adell. Tapi yang biasanya mereka sangat akrab, sekarang berubah terbalik. Airin tidak menjawab sapaan Adell. Dia hanya pergi menjauh dari Adell sambil merintih seperti menangisi sesuatu. Adell sangat bingung, airin adalah sahabat nya tapi mengapa dia berubah menjauhi Adell.

Dikelas mereka berdua hanya diam diaman. Airin hanya memandangi wajah Adel dengan mata yang berkaca kaca. Saat Adell menyapanya, dia hanya meneteskan air mata. Dia gak mau bicara apa masalah nya, padahan Adell itu sahabatnya. Hingga suatu hari bangku Airin kosong, dia pindah ke bangku dipojok kelas yang jauh Dari Adell. Apa yang terjadi dengan nya?. Dia bukan Airin yang seperti biasanya.
Apakah Airin marah pada Adel?. Tapi gak mungkin. Soalnya Adel itu sahabatnya. Adell gak mau sahabat satu satunya pergi.
Adell takut Airin arah padanya. Adelpun meletakkan secarik surat kecil di depan rumah Airin. Surat itu tertulis…….
Airin….. kamu marah ya sama aku. Kalo aku salah bilang aja aku bakal minta maaf sama kamu. Sorry ya sebagai sahabat aku gak bias jadi seperti yang kamu inginkan. Kalo kamu udah gak mau jadi sahabatku lagi aku gak bakal marah, tapi hati kecilku ini tetap sedih kalo kamu gak mau jadi sahabatku lagi. Kuharap kamu cepat membalasnya

Dari Adell
Adell selalu memeriksa kotak surat di depan rumah nya, berharap ada surat balasan dari Airin. Tapi hasilnya selalu nihil. Gak ada satu surat pun di kotak surat tua itu. Adell sudah tak sanggup menunggu lagi. Dimalam yang dingin ini dia langsung berjalan cepat menuju rumah Airin. Adell tak bisa berhenti sebelum sampai di rumah Airin. Tiba tiba langkah nya berhenti mendadak tepat di tujun nya, rumah Airin. Adell melihat Airin sedang menangis di depan jendela sambil memegang surat dari Adell. Disitu terlihat Adell kebingungan, kenapa Airin nangis baca surat dari Adell???.
“Airin……..”teriak Adell dari depan rumah Airin. Tapi disitu Airin malah pergi. Dan tak terlihat lagi Airin di depan jendela. Adell pun pergi dengan langkah pelannya dan sekali kali menoleh ke belakang mengharapkan Airin keluar dari rumah nya.

Keesokan harinya, di papan absen tertulis nama “Airin”. Adell pun menoleh kearah bangku Airin yang jauh darinya. Ternyata benar, Airin gak masuk. Sekarang di hari hari Adell udah gak ada canda dan tawa lagi bersama Airin. Mungkin Airin “udah punya sahabat yang lebih baik dari ku”pikir Adell.
Adell sangat tidak bersemangat melangkah pulang kerumah nya. Biasanya Adell pulang sama Airin. Sekarang Adell hanya sendrian. Disitu terlihat Adell sudah hampir meneteskan air mata kesepian.
Sesampainya di rumah, Adell melihat ada surat di dalam kotak surat depam rumahnya. Adell pun membuka kotak surat tua itu perlahan lahan, dan mengambil surat di dalam nya. Disitu Adell sangat terkejut, itu surat dari Airin.

Surat itu tertulis……
Maaf ya Dell, Aku bukan gak mau jadi sahabat kamu lagi. Cuma setiap aku ngeliat kamu, rasanya pengen nangis. Aku bakal pergi ke luar kota. Aku sedih setiap ngeliat kamu, soalnya kita bakal berpisah lama. Mungkin kalo sudah satu tahun aku pergi kamu bias jemput sku di bandara, itu juga kalo kamu gak lupa sama aku. Bentar lagi aku mau berangkat ke bandara, selamat tinggal

Dari Airin
Belum sempat Adell ganti baju, Adell langsung lari ke rumah Airin. Adell lihat, rumah Airin kosang. Tiba tiba terdengat suara mobil. Suara mobil itu terdengar dari garasi Airin. Tiba tiba mobil Airin keluar dari garasi dan didalam nya ada Airin yang melambaikan tangan pada Adell. “Selamat tinggal Adell, semoga satu tahun kedepan kita masih bias bertemu” teriak Airin semakin mengecil.
Semejak itu Adell sering terlihat menyendiri. Adell terlihat kesepian tanpa Airin yang biasa menemani nya. Adell tak sabar satu tahun berlalu. Hingga penantiannya pun tercapai. Sudah satu tahun berlalu. Tidak lupa Adall segera menuju bandara. Adell terus menunggu tanpa ada kata lelah. Waktupun terus berjalan, sudah dua puluh empat jam Adell menunggu, tapi gak ada tenda tanda dari Airin.
Keluarga Adell udah kebingungan mencari Adell. Semua tempat kesukaan Adell udah di cari, tapi Adell tetap gak ketemu. Orang tua Adell gak berfikir mencari Adell ke bandara.

Tiga hari tiga malan Adell menunggu. Hingga Akhirnya Adell putus asa. “mungkin Airin udah gak mau kembali lagi” pikir Adell. Dengan langkah kecilnya Adell pun mencoba berjalan pulang. Dengan sedikit tenaga yang Adell miliki, akhirnya Adell bias pulang. Adell langsung disambut senang oleh keluarganya.
“Sayang… kamu kemana aja? Kok gak pulang pulang?? Mama ambilin teh ya??” Tanya mama bertubi tubi. Adell hanya bias menganggukkan kepala. Beberapa menit kemudian mama datang dengan memegang secangkir teh. Tapi, tiba tiba teh itu terjatuh. Disitu Adell sudah tergeletak di lantai. “sayang….sayang bangun kamu kenapa?”ucap mama kebingungan. Ternyata Adell udah gak ada. “Adell jangan tinggalin mama, mama sayang Adell”teriak mama sambil menetaskan air mata.

Adell pun di makamkan di sebelah makam mewah. “selamat tinggal ya sayang, semoga kamu tetap inget sama mama. Mama tetap doain kamu, mama bekal terus sayang kamu walau gak bias mama ucapkan langsung di depan mu mama tetap selalu ada buat kamu sayang GOOD BYE FOREVER” ucap mama di depan makan Adell. Ternyata makam meweh di sebelah makam Adell itu………. Makam Airin. Airin sudah meninggal karena kecelakaan pesawat. Gak ada yang bisa ngabarin Adell soalnya semua keluarga Airin tewas dalam kecelakaan pesawat itu. Walau begitu mereka tetap Abadi menjadi sahabat walau gak dibumi lagi.
**TAMAT**

Friend Story


Friend Story...

Pada suatu sekolah di SMAN 1 Batu Mabur, terdapat 8 Orang sahabat yang berasal dari sekolah yang berbeda” namun dipertemukan di sekolah ini, mereka adalah : Aji, Ahmad, Herdi, Rizky, Dhila, Lia, Saskia, dan Titin. Persahabatan mereka memang seperti Metamorfosis Kupu-kupu, mulai dari ulat menjadi Kupu-kupu. Namun ketika hampir menjadi kupu-kupu, aji malah di suruh pindah sama orang tuanya, yang membuat sahabatnya terkejut, karena mereka mengetahui kabar pindahnya aji bukan dari aji sendiri tapi dari orang lain, yang satu kelas sama aji.
Pertama kali mereka masuk ke sekolah tersebut, mereka berada di satu kelas saat MOPD, namun ketika sudah mulai penjurusan mereka menyebar dikelas” yang berada di SMAN 1 BATU MABUR. Namun hubungan persahabatan mereka masih tetap berjalan, apalagi dalam organisasi yang mereka masuki saat ini yaitu pramuka. Setiap Jum’at Siang, sebelum upacara pembukaan kegiatan pramuka, mereka selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul, dan berbincang-bincang tentang materi yang akan diberi kakak bantara kepada mereka hari itu, dan tak jarang juga sambil menunggu waktu upacara, mereka mengerjakan tugas yang diberikan guru secara bersama.
Pada saat pengalihan jenjang dari penggalang ke tingkat penegak, kita tak punya waktu sedikitpun untuk berkumpul bersama karena kami saling sibuk mempersiapkan materi dan fisik kami. Namun setiap melaksanakan shalat tak sengaja kami selalu bertemu dan saling menyemangati satu sama lain, agar tak ada yang ngedroop. Seusai kegiatan pengalihan jenjang pun mereka langsung kembali kerumah mereka masing-masing karena kelelahan.
Namun Aji dan Ahmad, mereka tetap pulang bersama, dan ditengah perjalanan mereka sedikit berbincang, Ahmad mengatakan jika dia suka sama Lia, namun Ahmad tidak ingin mengungkapkan kepada Lia karena dia takut kalau nanti persahabatan mereka akan hancur, akhirnya Ahmad memutuskan untuk menyimpan perasaannya, hanya Aji lah yang mengetahui perasaan Ahmad kepada Lia.  Ketika Ahmad bercerita, Aji hanya bisa tertawa ketika mendengar cerita dari Ahmad, tak jelang waktu lama, akhirnya mereka berpisah dan menuju rumah masing- masing.
Mereka tak hanya aktif di pramuka, namun dalam hal pelajaran di sekolah mereka tidak tertinggal, karena mereka pandai membagi waktu mereka antara disekolah, organisasi, dan dirumah dan itu membutuhkan sebuah Komitmen yang besar. Akhirnya semua berjalan beriringan, dan saat pengumuman nilai kenaikan kelas pun, mereka mendapatkan nilai yang cukup memuaskan.
Pada saat pemantapan calon bantara pula, tak disangka merekapun memutuskan untuk mengikutinya karena mereka sudah jatuh cinta sama pramuka, namun saat pemantapan calon bantara kedua, Lia tidak bisa hadir dikarenakan dia sakit. Setelah kegiatan pun akhirnya mereka memutuskan untuk menjenguk Lia dirumahnya. Namun saat mereka sampai dirumah Lia, dia sedang periksa di dokter diantar ayahnya, sehingga mereka hanya bertemu dengan ibunya, namun karena mereka sudah lelah akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, dan hanya menitipkan salam mereka di ibunya Lia.
Setelah mereka menjadi seorang penegak bantara, keakraban mereka semakin dekat dan mereka juga mencoba membaur dengan teman-teman yang lain, agar mempererat tali persaudaraan antar bantara. Kabar tentang kepindahan Aji pun mulai menyebar setelah ada informasi jika Aji mendapatkan Beasiswa di Sekolah Djarum Foundation, Bogor.  Sebenarnya Aji tidak mau untuk pindah kesekolah tersebut, dikarenakan Aji sudah nyaman dan memiliki banyak  teman di SMAN 1 Batu Mabur, namun bagaimana lagi ayah Aji, menginginkan yang terbaik untuk Aji, tak hanya itu tapi faktor ekonomi juga, yang akhirnya membuat Aji memutuskan untuk menikuti permintaan Ayahnya.
Saat kegiatan pertama mereka Musyawarah Ambalan, Aji tidak boleh hadir oleh ayahnya karena ayahnya takut kalau Aji kelelahan, yang akan membuat ke Bogornya ditunda, lebih baik Aji dirumah saja, begitu ujarnya.  Hal inilah yang membuat teman-teman bantara merapatkan perihal kepindahan Aji yang tak lama lagi, banyak sekali usulan tentang hal yang akan diberikan kepada Aji, hal yang bisa mengenangkan Aji namun tak membuat Aji bosan, setelah banya usulan yang masuk akhirnya diputuskan bahwa akan memberikan sebuah video yang berisikan ungkapan hati teman-teman. Untung saja saat HUT pramuka ke 57 kemarin, Aji diperbolehkan mengikuti kegiatan tersebut, yang membuat teman-temannya senang karena bisa melihatnya sebelum perpindahannya, dan bisa mengirimkan kenang-kenangan tersebut untuk Aji. Saat setelah kegiatan itu berlangsung, Aji langsung membagikan Amplop kepada Ahmad, Herdi, Rizky, Lia, Dila, Saskia, Titin, dan satu surat lagi untuk semua bantara kelas XI. Namun surat tersebut tidak boleh dibacakan langsung saat itu juga, surat itu boleh dibaca saat semua bantara kumpul rapat/setelah kegiatan Jum’at.
Keeseokan harinya, terdapat kabar jika akan diadakan lomba pramuka penegak di suatu Universitas di Majalengka, yang membuat semuanya kaget karena, ternyata 8 Anak tersebut yang mengikuti perlombaan, sangat disayangkan keaktifan mereka yang sebentar lagi akan diuji ternyata Aji tidak bisa mengikutinya dikarenakan dia harus pindah sekolah. Namun mereka tidak putus semangat karena mereka berlomba tanpa Aji, mereka masih terus bersama, dan saling menyakinkan bahwa mereka bisa membuat bangga Aji dan semua teman-teman yang lain.
Akhirnya mereka bisa mendapatkan Juara, mereka memborong banyak kejuaraan salah satu nya Juara 1 dibidang Technology Sains yang paling meneganagkan, karena lomba itu proses nya sangat panjang dan sulit, namun karena dilalui bersama maka semua kesulitan berasa mudah. Dan kabar kemenangan mereka langsung mereka sampaikan kepada Aji melalui video call yang mereka lakukan saat mereka perjalanan pulang kesekolah.
Meskipun saat ini Aji sudah pindah kesekolah lain, namun hubungan persahabatan mereka masih terjalin dengan baik. Dan mereka juga masih sering saling bertukar informasi, meskipun Aji sudah mendapatkan teman baru namun dia masih mengingat sahabatnya yang ada disini, karena semua yang terekam oleh mata dan sudah tersimpan didalam memori fikiran, takkan mudah terlupakan begitu saja.
Suatu ketika pada saat acara Ulang Tahun  Ahmad, yang diadakan di Rumah Ahmad, yang diundang hanyalah sahabat terdekatnya, mereka berpesta ria memanggang BBQ, hanya Lia dan Rizky yang belum sampai dirumah Ahmad, saat itu terjadi sebuah incident kecelakaan antara sepeda motor yang dikendarai oleh Rizky dan Lia, saat dipertigaan sepeda motor Rizky di serempet oleh mobil yang dikendarai seorang pemabuk, risky terluka parah yang harus di larikan ke Rumah Sakit.
Lia langsung mencari taksi dan membawa Rizky ke Rumah Sakit agar langsung bisa ditangani. Saat itu persaan Lia sangat campur aduk, akhirnya Lia langsung menelfon Ahmad dan menceritakan semua yang terjadi, setelah sampai dirumah sakit, Lia langsung mengambil Hp Rizky dan menelfon orang tua Rizky, Lia sangat merasa bersalah kepada Rizky, Lia selalu berdo’a agar Rizky baik-baik saja dan kembali sadar. Tak lama kemudian sahabat-sahabat mereka sampai dirumah sakit dan langsung menemui Lia, saat di temui Lia sedang duduk termenung di sudut ruangan sambil menunggu kejaiban yang akan menghampiri Rizky agar Rizky dapat kembali seperti semula.
Lia selalu setia menemani Rizky sampai-sampai terkadang dia sendiri tidak memikirkan keadaan tubuhnya, begitu setianya Lia menunggu kepulihan Rizky sampai membuat perasaan Ahmad cemburu, namun Ahmad tetap tak memiliki keberanian tuk mengungkapkan perasaannya, karena dia masih mengingat ucapannya ketika itu, Ahmad hanya bisa diam tanpa kata yang terucap dan menatap kesetiaan Lia.
Tak disangka sudah 3 hari Rizky tak sadarkan diri, namun Rizky masih belum sadar pula, ketika itu suasana malam menjadi hening, sepi, sunyi, tentram, dan betapa bersyukurnya, akhirnya saat itu Rizky mulai sadarkan diri dan nama yang pertama kali ia sebut adalah Lia, karena yang ia ingat saat terakhir itu dia bersama Lia. Dokter langsung memeriksa keadaan Rizky, dan Dokter mengatakan bahwa Rizky sudah lolos dari masa koma nya, dan keesokan harinya Rizky dipindahkan ke ruang lain untuk memulihkan keadaan Rizky.
Pagi hari ini udara begitu sejuk dan sang raja siang muncul perlahan, hari ini Lia minta izin kepada dokter untuk mengajak Rizky jalan-jalan melihat keadaan luar, karena sudah 3 hari Rizky hanya berada didalam ruang ICU, yang mungkin membuat Rizky jenuh. Saat itu mereka berdua jalan-jalan sambil mengobrol, dan menikmati suasana pagi ini, dan Lia mengajak Rizky ke taman untuk menikmati sinar dari sang raja yang mulai mencapai puncaknya.
Saat itu tiba-tiba ada Ahmad yang melihatnya, untuk menutupi kecemburuannya Ahmad langsung menemui mereka dan bergabung dengan mereka, suasanapun menjadi sumringah, namun ada seorang suster yang meminta agar Rizky bisa beristirahat kembali karena dia baru sadar dari koma nya. Dan mereka membawa Rizky untuk memasuki ruangan istirahatnya, suster menyuruh Lia dan Ahmad untuk menunggu didepan karena suster mau check up keadaan Rizky kala itu, ketika Ahmad mencoba tuk berbicara kepada Lia dia mengawali dengan dia menanyakan perasaan Lia tentang keadaan Rizky, namun ketika ia ingin mengatakan perasaannya yang sesungguhnya ia tak berani.
Keesokan harinya Rizky sudah diizinkan untuk pulang, sejak saat itu kedekatan Lia dengan Rizky semakin menjadi-jadi, yang membuat Ahmad semakin sakit hati, dan  Ahmad berencana memberanikan diri tuk mengungkapkan perasaannya, namun semua itu sia-sia ketika Ahmad ingin mengungkapkan Lia dan Rizky sudah jadian terlebih dahulu. Dan itu membuat persahabatan mereka yang tadinya baik-baik saja menjadi ada sedikit merenggang Cuma masalah cinta segitiga Lia, Rizky, dan Ahmad. Lamban laun akhirnya Aji mendengar kabar tersebut dan akhirnya Aji menyarankan agar sahabat-sahabat mereka berkumpul jadi satu dan salah satu menelfon Aji dan suara Aji di loudspeaker.
Saran Aji pun disanggupi sahabat-sahabatnya, akhirnya mereka semua bergabung menjadi satu, dan membicarakan hal ini kepada Aji, bersyukurnya akhirnya persahabatan mereka kembali seperti semula, walaupun ada percintaan segitiga namun itu tidak menjadi suatu permasalahan yang membuat persahabatan menjadi rusak.
                                                             
                                                          Kaliwungu, 24 September 2015

Cinta dan Persahabatan

 
 CINTA DAN PERSAHABATAN

Jam dinding sudah menunjukan jam 5.14. Aku segera berangkat ke sekolah, aku bersekolah di SMP NEGERI 2 di daerah Jombang. Aku termasuk anak yang pendiam dan jenius.
Aku punya teman yang bernama Diky, ia adalah sahabat terbaikku, kami berdua sering membicarakan tentang cinta. Hingga di suatu hari Diky bercerita kalau dia menyukai seorang perempuan cantik yang bernama Putri, Putri adalah sahabat terbaikku juga, jadi aku memberitahu putri bahwa Diky menyukainya. Putri juga pernah bercerita kepadaku kalau ia dulu juga mencintai Diky, jadi aku memberi tahu diky kalau putri juga mencintainya. Tanpa befikir lama lagi diky pun lansung menembak putri. Hingga akhirnya mereka berdua jadian.
Hari demi hari mereka lalui dengan penuh rasa kasih sayang, dan penuh dengan kemesraan, bila mereka berdua ada masalah, aku selalu memberi masukan dan solusinya, hingga hubungan mereka kembali rekat lagi.
Setelah 3 tahun kemudian, Aku dan teman teman satu sekolah mengadakan suatu perpisahan, perpisahan sekolah terasa sangat senang hingga kita semua sampai lupa waktu, hingga sore perpisahan pun belum salesai, adzan maghrib terdengar sedang berkumandang, kami semua segera bergantian mengambil air wudhu, setelah aku selesai wudhu, aku pun langsung mengambil microphone untuk mengumandangkan adzan maghrib.
Setelah selesai sholat berjamaah kami semua berpamitan kepada guru guru kami, dan meminta doanya, agar kami semua bisa mencapai ke jenjang sekolah yang lebih tinggi dan menggapai cita cita kami. Kami semua pun segera pulang ke rumah masing masing dengan rasa bahagia dan capek.
Jam berputar dengan cepat hingga tidak terasa bahwa aku dan teman teman harus mencari sekolah kejuruan yang kami inginkan. Aku pun mengajak diky untuk ke sekolah yang aku inginkan, akan tetapi diky tidak mau, karena ia kasihan sama orangtuanya yang tidak sanggup membiayainya, diky masuk ke sekolah yang agak relatif murah, yang biayanya dapat dijangkau oleh kedua orangtuanya.
Aku memilih ke sekolah yang aku ingingkan. Pertama kali masuk ke sekolah kejuruan terasa seperti mimpi. Dari dulu aku memang ingin masuk ke sekolah kejuruaan. Aku memilih jurusan Teknik Komputer dan Jaringan atau TKJ. Aku memang menyukai dengan bidang elektronik.
Setelah lama tidak bertemu dengan sahabatku diky, aku pun pergi main ke rumahnya setelah pulang dari sekolah. Setelah sampai di rumahnya diky, diky bercerita banyak tentang hubunganya dengan putri. Ian bercerita bahwa hubungan mereka sudah kandas di tengah jalan. Aku pun turut prihatin atas semua kejadian yang dialami oleh diky.
Sepulang dari rumahnya diky, aku menuju ke rumahnya putri, aku bertanya ke putri “mengapa sampai hubungan kalian berdua kandas di tengah jalan?”, putri menjawab “sebenarnya aku dari dulu tidak mencintai diky, tapi aku mencintai kamu”. Aku pun terkejut dengan apa yang diucapkan oleh putri. Aku menjawab semua perkataan itu dengan lembut. “Aku sebenarnya juga mencintai kamu put, tapi aku memendam rasa itu karena aku tahu kalau sahabatku sendiri juga mencintai kamu…”
Setelah perbincangan itu aku dan putri pun menjalin sebuah hubungan. Hubungan kami sangat istimewa, karena tidak ada masalah sedikit pun. Setelah 1 tahun berjalan, diky mengetahui kenapa putri memutuskan untuk pisah dengannya. Diky pun marah marah kepadaku. Sepanjang hari Aku selalu minta maaf kepadanya akan tetapi ia masih tidak mau memaafkan aku.
Satu tahun kemudian, ia pun mau memaafkan aku dan melupakan semua yang terjadi, aku merasa sangat senang dan bahagia. Aku juga bercerita bahwa hubungan aku dengan putri sudah kandas di tengah jalan, diky bertanya kepadaku, “jangan bilang kalau gara-gara aku hubungan kalian kandas di tengah jalan, aku tidak bermaksud untuk menghancurkan hubungan kalian, tapi aku memang sangat marah dan kecewa sama kamu dan putri!”, aku menjawab pertanyaan itu “santai aja brow, bukan gara-gara kamu kok, tapi memang kita sudah tidak ada kecocokan lagi…”.
Suatu hari, diky bercerita kepadaku kalau ia sedang naksir seorang temannya, temannya itu bernama Ayu. Aku sangat mendukung usaha diky untuk mencari hubungan lagi. Setelah aku dikenalin dengan ayu, kami jadi sering ketemu dan jalan bareng. Hingga kedekatan aku dengan ayu semakin dekat, rasa cinta mulai tumbuh di antara kita berdua. Tapi aku mulai sadar kalau aku tidak boleh melakukan kesalahan lagi, aku tidak mau diky marah besar lagi kepadaku.
Aku berusaha untuk menjahui ayu, akan tetapi ayu masih mencari aku, hingga aku kasihan kepadanya. Malam harinya aku main ke rumahnya ayu, ternyata ayu sedang menangis di kamarnya, aku secara diam diam masuk ke kamarnya, dan berusaha untuk menenangkannya. Aku tidak kuasa menahan rasa kasihanku, tiba tiba ayu memeluk aku dengan sangat kencang, dan sambil menangis ia berkata “aku tidak mau kehilangan kamu, jadi kamu jangan pernah meninggalkan aku lagi za…”, aku pun mejawab kata kata itu “ayu, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi, aku juga sangat mencintai kamu, sekarang kamu jangan nangis lagi za…”. Karena terhanyut dalam suasana aku dan ayu tidak menyadari, bahwa dari tadi diky sudah ada disitu.
Aku pun berusaha untuk melepaskan tangan ayu dari pelukannya, akan tetapi ayu masih saja memeluk aku, dan tidak mau melepaskan aku. Diky lari keluar rumah sambil menangis dan mengucapkan kata kata kepadaku “dasar, bajingan kamu, katanya sahabat tapi apa..?, kamu mengambil semua itu dariku”.
Terdengar suara montor yang sangat kencang, ternyata itu diky, dengan rasa emosi diky melajukan motornya dengan sangat kencang, hingga di tikungan jalan juga terdapat truk yang melaju sangat kencang. Tabrakan pun tidak dapat dihindari. Diky meninggal di tempat kejadian itu. Aku sangat menyesal dengan apa yang aku perbuat selama ini, kematian diky itu gara-gara aku.
Hingga akhirnya aku menyimpulkan semua itu bahwa “sahabat itu lebih penting dari pada cinta, dan juga seorang sahabat sejati itu sangat sulit dicari… jadi jangan pernah menyianyiakan seorang sahabat sejati…”