Minggu, 01 Desember 2019
Peran Pembelajaran Fisika Untuk Revolusi Industri 4.0
08.53
No comments
Peran
Pembelajaran Fisika Untuk Revolusi Industri 4.0
Disusun oleh :
Almarratuz Zakiyah (1708066050)
Tiga abad tahun
terakhir, kehidupan manusia mengalami perkembangan dan perubahan secara terus menerus.
Revolusi industry menjadi sejarah perkembangan yang membuat kehidupan manusia
modern mengalami perubahan yang besifat membangun. Revolusi industry merupakan istilah
yang dipakai untuk menunjukkan adanya perubahan di bidang industri, seperti tenologi
dasar yang digunakan di pabrik berupa mesin-mesin yang berhasil diciptakan untuk
mempermudah pekerjaan manusia. Pada era sekarang ini dikenal dengan revolusi industri
4.0. Industri 4.0 dimulai pada awal tahun
2018 yang ditandai dengan system cyber –
physical. Era industri 4.0 mengharuskan manusia memiliki tingkat kreativitas
yang tinggi karena tingkat persaingan yang tinggi pula. Hal yang harus ditingkatkan
yaitu, sumber daya manusia dalam hal sains, teknologi, teknik dan matematika. Manusia
di era ini harus berinovasi agar tidak tertinggal oleh zaman. Cara yang dapat dilakukan
untuk meningkatkan sumber daya manusia yaitu melalui pendidikan. Melalui proses
pendidikan, diharapkan mampu untuk menuntun peserta didiknya untuk menjadi manusia
yang berkualitas sehingga mampu bersaing di era industri ini. Adanya revolusi industri
4.0 mengakibatkan terciptanya inovasi-inovasi
di bidang pedidikan, salah satunya yaitu fisika.Ciri industri 4.0 yaitu adanya inovasi-inovasi
baru yang dapat berkembang dan menyebar secara cepat dengan biaya yang sangat
minim, dan menyatukan beberapa bidang keilmuan yang dapat berpengaruh secara menyeluruh
pada berbagai aspek kehidupan manusia. Di
era sekarang ini, informasi-informasi yang dibutuhkan siswa dengan sangat mudah
untuk didapatkan. Guru bukanlah satu-satunya sumber infomasi yang dibutuhkan siswa.
Banyak model pembelajaran yang baru untuk menyesuaikan industri sekarang ini,
misalnya yaitu model pembelajarn STEM. Model pembelajaran STEM merupakan integrasi
dari beberapa cabang ilmu yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan di
dunia nyata. Pembelajaran STEM di mata pelajaran fisika diharapkan peserta didik
mampu untuk menghadapi lingkungan kerja yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan berfikirnya
saja, melainkan dilihat dari segi psikomotorik dan afektifnya. Hal ini yang
kemudian menjadi hak yang penting dalam kemampuan di bidang sains dan penerapannya
di kehidupan masyarakat abad ke 21. Industri 4.0 membawa tantangan yang nyata bagi
peserta didik dan pendidik, mata pelajaran fisika untuk menciptakan generasi-generasi
yang aktif, kreatif dan penuh inovasi sehingga mampu bersaing pada tingkat
global.
Yuk Kenali Lebih Dekat Merencanakan Pembelajaran Fisika
07.03
No comments
ARTIKEL
YUK KENALI LEBIH DEKAT MENGENAI MERENCANAKAN PEMBELAJARAN FISIKA
Karya : Ghinayatul'Amalya (1708066036)
Karya : Ghinayatul'Amalya (1708066036)
Perencanaan pembelajaran merupakan catatan-catatan
penting yang harus dilakukan seorang guru dalam menyusun/mengelola proses
pembelajaran sesuai yang diinginkan. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh
seorang guru, sudah tertera di dalam sini. Sama halnya dengan pembuatan film, seseorang
scriptwriter yang membuat naskah/skenario, sutradara yang mengatur langkah demi
langkah sesuai dengan naskah, dan pemeran adalah orang yang memainkan peran,
dalam hal ini guru berada di posisi scriptwriter dan sutradara, guru mengatur,
memposisikan kegiatan pembelajaran agar mencapai tujuan pembelajaran yang
diinginkan.
Seperti yang dijelaskan oleh (Agian &
Pembelajaran, n.d.)
rencana pembelajaran merupakan penggalan-penggalan kegiatan yang perlu
dilalukan oleh guru pada tiap pertemuan, berisi tindakan yang dilakukan guru
untuk mencapai ketuntasan kompetensi agar proses pembelajaran lebih terarah,
berjalan efektif dan efisien. Namun perencanaan pembelajaran sendiri hendaknya
bersifat fleksibel, sehingga ketika terdapat permasalahan ditengah berjalannya
scenario pembelajaran, seorang guru dapat mengetahui solusi yang tepat.
Perumusan perencanaan pembelajaran sangat bergantung
dengan perumusan indikator pembelajaran, seperti perumusan kegiatan
pembelajaran, perumusan penilaian yang membuat seorang guru mengetahui hasil
dari perencanaan pembelajaran yang telah disusun. Penelitia yang dilakukan oleh
(Harianto, Hidayat,
& Koes, 2016)
terdapat 2% indikator pembelajaran yang melibatkan proses kognitif mencipta,
meski kenyataan tidak sesuai dengan tipe permasalahan pembelajaran, kegiatan
pembelajaran dan rencana penilaian.
Dalam kegiatan pembelajaran cenderung mengarah pada
kegiatan yang bersifat memahami suatu kerangka atau struktur-struktur suatu
materi pelajaran, meskipun dalam RPP yang menggunakan pendekatan saintifik (5M)
dengan mengasosiasi namun pada nyatanya lebih pada proses memahami, hal ini
berbeda dengan yang dimaksud 5 keterampilan pokok dalam menngembangkan
keterampilan berpikir kreatif, penggunaan soal lebih cenderung bersifat tes
dengan menggunakan soal-soal tertutup (close
–ended), belum ada yang menggunakan bentuk soal tes soal-soal terbuka (open – ended).
(Ii & Capital,
2007)
menuturkan jika dalam peristiwa mengajar dan belajar masih sering terjadi guru
lebih asyik menjelaskan materi pelajaran sedangkan siswa lebih asyik dengan
kegiatannya sendiri (melamun, mengantuk, dkk), hal ini belum dapat dikatakan
belajar, karena antara keduanya tidak terjadi interaksi. Bagi guru, yang
terpenting materi pelajaran telah disampaikan dengan baik, tidak perduli
bagaimana respon siswa yang diberikan materi pelajaran tersebut. Padahal
seharusnya, antara siswa dan guru melakukan interaksi di dalam kelas sehingga
tidak hanya materi yang tersampaikan, namun juga kedekatan dan kepercayaan
siswa ke guru terjalin dengan baik.
(Program studi pendidikan teknik informatika fakultas teknik universitas
negeri yogyakarta 2015, 2015) dalam hasil survey nya menunjukkan bahwa hambatan
yang dialami guru dalam pelaksanaan pembelajaran, 8% dikarenakan waktu/jam
pembelajaran produktif yang tidak dibuat system blok, 11% disebabkan waktu
dalam membuat RPP bagi guru sangat mepet karena pembuatannya bersamaan dengan
administrasi pembelajaran lainnya yang disusun di awal tahun, 17% disebabkan
guru kesulitan menentukan metode pembelajaran dan media yang digunakan, 31%
disebabkan kurangnya sumber buku mata pelajaran kurikulum 2013, 33% guru tidak
mengalami hambatan, dari hal ini.
Penelitian di atas menjelaskan jika ketika menjadi
seorang guru, harus menyempatkan waktunya dalam melengkapi administrasi
pembelajaran sebelum jatuh tempo, mencari banyak referensi mengenai metode,
model, strategi pembelajaran yang menarik, sehingga pembelajaran yang terfokus
pada siswa di kelas terlaksana dengan penggunaan waktu yang efisien,
pembelajaran lebih tertata, materi yang penting dan menjadi inti pada tiap
pertemuan, tersampaikan dengan baik.












