Minggu, 06 Mei 2018
Tungku Tanpa Api
14.12
No comments
Senja
pun hampir hilang berganti rembulan, burung – burung berterbangan kembali ke
sangkarnya, pria itu gundah, di batas senja, murung wajahnya terpancar jelas,
setiap jengkal tubuh kurusnya lunglai menuju tempat singgahnya, tubuhnya mulai
merungkuk-tunduk serta tersebar aroma
kebimbangan.
Setiap
malam ia tak pernah tidur, tugas, makalah, serta laporan praktikum selalu
menghantuinya. Ia selalu kehilangan malam di setiap harinya kecuali saat tiada
peraktikum dan dosen meliburkan jadwal kuliah hari esok. “Bukan mentari pagi
yang ku inginkan !.” jerit hatinya. Rintih hati menatap cahaya kemuning hangat
yang menembus kamar melalui lubang ventilasi dan kaca jendela.
Mata
sayu itu kini banyak terpejam, aroma silver dari parfum yang menebar bersama
udara dalam ruang kelas tak lagi tercium. Dan yang tersisa kini hanyalah senyum
berbalut tatapan mati. Senyum gagah itu tak bergerak seperti dulu saat dia
masih menjadi siswa SMA.
Pemilik
mata sayu itu bernama Aziz, kini ia telah menyandang gelar Mahasiwa, jurusan
Fisika di sebuah Universitas ternama di Indonesia. Baginya keramaian di
sekelilingnya adalah kesuburan yang sepi dan mati.
Aziz
bukan ahli atau bisa dalam bidang fisika, dia diterima di Univertitas tersebut
di jurusan Fisika yang notabene-nya
adalah pilihan terakhir yang ia isi saat mendaftarkan diri. Namun, sejatinya ia
tak pernah menyukai mata pelajaran tersebut saat di tingkat pendidikan SMA.
Awalnya
dia tidak minat dalam fisika, namun karena tekat belajarnya yang begitu kuat.
Akhrinya, ia ambil jurusan tempat dia diterima tersebut, dengan harapan ia akan
masuk ke dalam jurusan lain pada tahun berikutnya.
*
Muna
teman sekelas Aziz dari SMA berjalan menuju tempat duduknya dan berkata, “Apa
yang membuatmu begini, ziz?. Andai saja aku tau…”, “ Aku salah jurusan mumun!!”
ungkap Aziz. “Salah jurusan! Itu hal biasa dalam masa transisi/peralihan
seperti ini ziz, kamu harus semangat, ingat orang tuamu sudah bersusah payah,
hingga kamu sampai sini.!”. balas Muna dengan nada yang sama tingginya. “Kamu
mau membantuku atau hanya mau menambah beban fikirku??”. Cetus Aziz. Lalu Muna
pun hanya tertunduk diam, dan Aziz mulai memelankan suaranya, “Sudahlah Mumun,
kamu jangan menambah beban fikiranku.” Lalu mereka berdua duduk bersama dan
saling diam.
Setelah
kejadian itu Muna tak pernah menemui Aziz, begitu pula sebaliknya. Hal ini berlangsung cukup lama, bahkan mereka
hampir tak pernah bersua satu-sama lainnya, meskipun satu kelas.
Ujian
Akhir Semester dua tinggal sebulan lagi, serta saat itu pembahasan dan
pembicaraan tentang SBMPTN pun tengah gencar-gencarnya di khalayak Mahasiswa
yang punya niatan untuk pindah ke kampus lain. Hal ini adalah salah satu momen
yang sudah Aziz tunggu, serta ia siapkan sejak lama. Di dalam kelas fisikanya
hanya dia yang mengikuti SBMPTN , ketika tiba saat pengumuman, ternyata dia gagal
ditahun ini.
Dia
pun kembali ke kelas dengan wajah murung, langkah lunglainya, menerima
kenyataan bahwa dia tak lolos ditahun ini. Munapun kembali merasa greget
melihatnya menjadi lebih parah dari dulu, pada akhirnya, Muna menemui Aziz
dengan harapan ingin memberi semangat untuknya, namun malah kembali terulang
percekcokan diantara keduanya yang tak terkendalikan, akan tetapi percekcokan
kali ini Muna lah yang lebih keras kepada Azizz. “Kau ini memang keras kepala”
tutur Muna ketika sudah tidak tau lagi harus bagaimana, lalu Muna meninggalkan Aziz
seorang diri.
Aziz
duduk dan termenung, terdiam sepi, memikirkan ungkapan yang telah diungkapan
teman lamanya itu (Muna) selama ini, seperti tentang kedua orangtua Aziz yang
telah bersusah payah demi masa depannya, dan dia juga tersadar bahwa Munalah
yang selama ini perduli terhadap dirinya.
Namun
tiba disaat Aziz mulai tersadar, bahwa ia telah jatuh hati kepada teman lamanya
tersebut. Bahkan meski ia telah jatuh hati kepada temannya, ia tak pernah
berjumpa baik, dengannya karena percekcokan yang sering terjadi diantara mereka.
Hingga suatu ketika Aziz melihat Muna,
sedang berbincang mesra dengan orang lain, yang menyebabkan Aziz kembali
terpuruk, dan menyesali semua yang telah terjadi, seharusnya ia tak menjatuhkan
hati kepada Muna, hanya karena merasa selama ini hanya Munalah yang peduli,seharusnya
ia menjatuhkan hati kepada Sang Pembolak-balik
Hati dengan rasa ikhlas serta
pasrah, sepasrah-pasrahnya mahluk terhadap pencipta-Nya.
Setelah
kejadian itu Aziz pun bersemangat kembali, dia selalu memulai langkahnya dengan
sebuah tekad bahwa akan ditaklukkannya fisika kini. Aziz pun telah mengubur
dalam perasaannya untuk teman lamanya, serta bertekad tak akan
mengungkapkannya, dengan cara tidak menemui Muna untuk saat ini.
Pada
suatu pagi hari di awal semester tiga, dengan gagah Aziz melangkahkan kakinya
menuju kelas, dengan senyum mengembang serta aroma silver yang melekat pada
tubuhnya ia bertekad untuk terus mempelajari fisika dan menuntaskan studinya
dengan baik, seperti yang telah Tuhan takdirkan dalam jalan hidupnya.











